Wednesday, September 22, 2010

balada cinta monyet : Bemo... Oh... Bemo...

trouble maker by pratiwi hape at Wednesday, September 22, 2010

“Ada apaan sih rame-rame?”tanyaku pada salah seorang temanku yang juga ikut mengerumuni serta memeriahkan dalam acara membaca bersama di mading pagi itu.
“Ada pendaftaran anggota OSIS.”ujarnya lalu kembali melanjutkan membaca.
Aku mencoba menerobos kerumunan para pasukan putih-biru pagi itu didukung dengan rasa penasaran yang sangat kuat. Keberuntungan menjadi anak yang kecil adalah, kamu akan dapat menerobos dalam kerumunan dengan sangat mudah.




Aku tersenyum lebar tiga jari ala Indra Bekti. Sepertinya semua yang ada di kriteria yang terpamapang di situ Putri banget deh, kecuali belum menikah. Wahh aku kan sudah punya tiga anak. Seekor anak hamster yang bernama Jiun dan dua ekor ikan yang bernama tralala trilili. Hahaha, bercanda guys, mereka kan hewan piaraanku yang selalu menemaniku di saat aku susah mau pun gundah, heh ? apa bedanya?ckkckck.


“Lu tertarik, Put?”tanya Wulan. Aku tersenyum lebar lagi ala Indra Bekti, hmm...perasaan aku demen banget tersenyum tiga jari.
“Nyengir lagi lu, jelek tau.”kata Wulan.
Tiga anak masuk ke dalam kelas sambil membawa beberapa selebaran.
“Selamat pagi teman-teman.”
“Pagi!”hanya beberapa yang jawab, tidak termasuk saya. Sebagian besar masih sibuk dengan aktifitas mereka masing-masing. Ada yang sms’an, ada yang nggosip, ada yang ngerjain PR dengan cara ngelirik tugas temennya, ada yang baca buku, ada yang maen game, ada yang melongo, ada yang tidur, ada yang meanari-nari, ada yang nyanyi, ada yang ng’drum, ada yang maen gitar, ada yang maen piano, nah loh, ini kelas apa panggung konser?
Satu anak yang kurasa paling cakep diantara mereka (hore mamaaaa aku masih normal, bisa tau mana yang cakep ) berbicara panjang lebar di depan kelas, aku rasa sih tuh cowok menjelaskan tentang cara mengikuti open recruitmen OSIS yang tadi aku baca di mading, dan dua yang lainnya membagikan selebaran yang sama persis dengan yang ditempel di mading. Sepertinya ini bagian dari publikasi. Yeah, actually I do Love organization.
“Bagaimana, ada yang tertarik untuk mendaftar?”tanya cowok cakep itu yang tak sengaja kubaca nama dadanya. Muhammad Riza. Hmm...nama yang bagus, pikirku.
“Engga angkat tangan lu?”tanya Wulan.
“Sssttt...jangan di sini, ntar gue privat sama Kak Riza.”
“Huh, gaye lu.”
Siang itu udara sangat tidak bersahabat, cukup untuk membuat beberapa anak laki-laki melepas beberapa kancing baju teratasnya dan beberapa cewek yang bisa kubilang sangat endel yang selalu membawa kipas, bedak bahkan sisir mulai mempergunakan kipasnya untuk membuat suhu di sekitarnya agak sejuk. Aku sibuk memerhatikan beberapa anak cowok yang sedang maen basket, Si Wulan entah kemana. Anak itu engga beda jauh dari jelangkung, datang tak dijemput, hilang pun tak diantar.
Kulihat seorang cowok dengan nomor punggung 5 sedang mendrible bola menuju ring kemudian, yap! Bolanya terbang dan masuk ke dalam ring, aku memberikan applause. Semuanya hening dan seketika itu juga semua mata menuju ke arahku. Semoga saja mukaku engga berubah jadi tomat busuk. Maluuuuuu.
Namanya Dito, cowok berbehel dari kelas sebelah itu memang jago banget maen basket, dan siapa sih cewek di sini yang engga tergila-gila dengannya. Kalau aku? Hmm...normal donk bilang kalo Dito emang ganteng, keren, ohh My God aku bener-bener normal. Hahaha. Ehh, tapi bukan Dito atau pun Kak Riza sih sebenernya inti dari cerita ini.
Aku memberanikan diri menghampiri ruang OSIS, dengan sedikit dukungan dari Wulan sih. Meskipun tuh cewek bukan salah satu yang tertarik dengan organisasi tetapi sangat perhatian dan mendukung terhadap kawannya. Kulihat ruang OSIS agaknya sepi, perlahan kudekati pintunya dan mengetuknya.
“Eh, masuk, dek.”ujar seorang cowok berkacamata yang sedang asyik menulis. Kayaknya dia tau kalo aku anak kelas satu dari badge hijau yang kupakai, kulihat badge’nya berwarna kuning, murid kelas dua dengan nama dada “Fajar Adi Sasongko”.
“Ada keperluan apa?”tanyanya.
“Ngg...anu...kak...saya mau daftar.”jawabku. Gugup. Oh My God, bukan Putri banget nih. Apa karena cowok yang ada di hadapanku ini...tidaaaaaaaaaakk...aku tau mau berpikir lebih.
“Oh, ya...ya...boleh. Siapa namamu?”tanyanya sambil mengulurkan tangan. Anggap aja diajak kenalan, pikirku nakal.
“Putri.”
“Fajar.”katanya, “Oke, Putri. Kamu hanya diwajibkan mengisi formulir ini kemudian besok bawa kembali ke sini ya?”katanya lagi sambil menyerahkan selembar formulir. Aku tersenyum, “Oh, iya, lupa. Sekalian foto postcard 3x4 dua lembar berwarna ya.”
Hahaha. Anggap saja diajak kenalan dan dimintai foto sama cowok cakep.
“Ada yang perlu ditanyakan?”tanyanya.
“Eh, tidak, Kak terima kasih. Saya pergi dulu.”
“Sama-sama. Jangan lupa besok dikembalikan ya!”serunya.
Aku berlalu dengan wajah berbinar-binar.
“Kenape, Lu?”tanya Wulan.
“Want to know aja!”seruku lalu ngacir.
***

“Aaaaaaargh!!!!!!!!!”
“Sssssttt...pagi-pagi udah tereak-tereak.”kata Amel, adekku yang tengah asyik menata rambutnya di depan cermin. Kulirik jam dinding 06.15.
“Kenapa Lu kagak bangunin gue?”
“Yee...mana gue tau kalo lu sekolah. Gue kirain Lu libur.”katanya enteng sambil menorehkan bedak pada pipinya.
“Libur pale lu!”seruku misuh-misuh lalu beranjak menuju kamar mandi.
Ini gara-gara mimpi ketemu Nobita sama Doraemon terus berpetualang ke luar angkasa dan bertarung melawan alien alhasil tidur gue terlalu nyenyak dan alhasil lagi bangun kesiangan sehingga alhasil lagi harus melewatkan sholat subuh. Herannya orang rumah kayaknya pada engga sadar kalo anaknya yang paling cantik belum bangun dari sleeping beautinya.
“Kesiangan, ya?”tanya mama sambil tersenyum sambil mengolesi roti dengan selai dan memberikannya pada Papa. Tak kuhiraukan, ada anaknya kesiangan ehh mala senyam senyum sendiri.
“Putri berangkat! Assalamualaikum!”seruku setelah mencium punggung tangan kanan Papa, Mama, dan Nenek yang asyik menyiram bunga di depan. Kukayuh sepedaku sekuat tenaga. Andai sekolahku dekat dengan rumah, engga bakalan deh aku kelabakan kayak gini. Sekolahku jauh dari rumah sekitar 20 km dan harus ditempuh dengan kendaraan umum. Apalagi di daerah seperti ini, kendaraan umum akan penuh dengan anak sekolah, orang bekerja, bahkan orang yang hendak pergi ke pasar.
Kulirik arloji yang melingkar manis di tanganku yang manis pula. 06.38. Mampus kalo engga segera dapet kendaraan umum, kuletakkan sepeda di tempat penitipan sepeda langgananku tak lupa ku sapa Om Iwan pemilik tempat penitipan yang sedang asyik membaca koran di beranda rumahnhya. Kucari-cari Icha, temanku yang biasanya menemaniku menunggu di pertigaan, tapi sepertinya sudah berangkat duluan tuh bocah.
“Terminal...terminal...jorongan....jorongan...”seru seorang kernet dari atas mobilnya.
Tanpa basa-basi langsung saja kunaiki mobil besar yang biasa disebut bison atau di kota yang sekarang kutinggali ini disebut kol. Engga tau deh kol putih apa kol merah, bisa dibuat cap cay atau engga.
Kol pun melaju dengan kecepatan sedang, tak berani terlalu ngebut soalnya mereka juga harus kejar setoran mencari penumpang. Di dalamnya terdapat beberapa anak SMP sepertiku tapi tak ada satu pun yang aku kenal, sepertinya dari sekolah sebelah kemudiaN seorang ibu-ibu paruh baya dengan jamu gendongnya dan seorang ibu-ibu yang memakai baju pegawai negeri dan seorang bapak-bapak yang dengan asyiknya menyulut rokok kretek yang sebenernya sangat mengganggu buat orang-orang di sekitarnya.
Tak lama kol pun berhenti di sebuah pertigaan, aku menghela nafas melirik arloji. 20 menit lagi mau engga mau harus sampe di sekolah, beruntung sekali sekolahku berada di pinggir jalan, dan beruntung lagi karena kota kecil ini tidak pernah kena penyakit seperti macet seperti kota kelahiranku, Surabaya.
“Hai.”seorang cowok berkacamata menyapaku, “Kamu kan yang kemaren ke ruang OSIS?”
Yap! Bisa ditebak sendiri deh, siapa gerangan yang menyapaku. Kak Fajar.
“Eh, hai. Kakak yang di ruang OSIS itu kan?”ujarku berbalik tanya.
“Wah, naek kendaraan umum juga ya?”tanyanya lagi. Aku tersenyum.
Dan akhirnya aku terlibat dalam perbincangan yang seru dengan cowok berkacamata yang bernama Fajar ini. Bahkan kami pun sering berangkat dan pulang sekolah bareng dengan Icha tentunya. Dan sepertinya dia telah membuatku nyaman berada di sampingnya. Begitu juga sebaliknya, sepertinya Kak Fajar pun merasakan hal yang sama.
Hingga akhirnya...
“Kamu sama Icha sudah lama kenal?”tanyanya.
“Iya, kita satu komplek. Lagian kita udah satu sekolah sejak dari TK, jangan sampe deh SMA satu sekolah lagi.”guyonku. Kak Fajar tersenyum, ada sesuatu dalam senyumnya yang entah kenapa membuatku tak nyaman dan ingin segera beranjak dari kantin.
“Icha uda punya pacar belum?”tanyanya tiba-tiba.
Tepokz jidat! Tapi dalam hati ding, entar aku dikira suka lagi sama Kak Fajar. Aku tersenyum, tapi entah kenapa agak kupaksakan.
“Setahuku sih belum, Kak. Kenapa? Oh...Putri tau ni...kamu su...”
Dengan sigap Kak Fajar membekap mulutku.
“Ssssttt...jangan rame-rame...udah lama aku perhatiin dia. Menurutmu gimana?”
“Sikaaaat.”seruku.
Cowok manis itu garuk-garuk kepala, engga tau deh kenapa, rambutnya banyak kutunya kali, lalu berbisik, “Sikat gigi maksud lu? Serius Putri...aku pengen kamu nyomblangin aku sama dia. Gimana?”
Aku pun memasang tampang sedang berpikir, padahal ya sebenernya engga berpikir.
“Bisa aja sih...tapi Putri engga janji ya, Kak. Soalnya Icha tuh...”belum selesai aku bertanya, Si Fajar pun berteriak, “Ya ampun, ada rapat OSIS. Oke mohon bantuannya Putri cantik. Bye!”serunya sambil ngelonyor pergi.
Dasar cowok ganteng. Bisa aja bikin orang ge-er. Eh ups...emang aku ge-er? Hahaha....ya iyalah, aku kirain dia suka sama aku. Ehhh...untungnya aku engga pernah berpikir buat suka sama dia. Untung paman si donal bebek, kwak kwik kwek keponakan donal bebek, desy pacar donal bebek.
“Kamu Putri, ya?”seseorang menyapaku saat aku hendak membayar teh botol siang itu. Aku menoleh pada cowok yang berdiri di sebelahku.
“Eh, iya.”
“Kamu kenal kan sama Fajar? Anak kelas VIII-D?”tanyanya lagi, aku mengangguk, “Kok bisa ya, anak itu suka sama anak macam kamu?”ujarnya lagi sembari berlalu.
Ku tertegun, sepertinya kata-kata itu baru saja membuatku tersinggung. Emang aku cewe macam apa? Engga pantes buat disukai? Engga pantes ditaksir cowo seganteng Fajar? Enak saja. Tapi aku baru teringat, bukannya tadi pagi Si Fajar itu baru saja bilang kalau dia suka sama Icha? Bingung menyelimuti.
Sudah tiga hari tiga malam aku tak berjumpa dengan cowok ganteng itu, sudah tiga hari tiga malam pula aku belum bercerita tentang perasaan Fajar pada Icha, bahkan suda tiga hari tiga malam aku memikirkan kata-kata temannya Fajar itu, daaaan sudah tiga hari tiga malam bang Toyib engga pulang-pulang. Hufft...
Bingo!
Akhirnya aku menarik kesimpulan meskipun terkesan agak Ge-Er tapi engga apa-apalah. Begini bunyinya, Sebenernya Si Fajar itu suka sama aku tapi karena teman-temannya kelihatannya melihat aku seperti cewek urakan, udah kecil, kumel, rambut engga pernah disisir maka dari itu Fajar memutuskan untuk suka pada temanku Si Icha agar kedekatanku dengan dia selama ini tidak berakhir dengan malu-maluin. Entah itu malu malu kucing atau putri malu, ups...itu mah namaku.
Tapi semenjak itu pula intensitas kami berangkat dan pulang sekolah bareng hanya berdasarkan pada kebetulan saja, tidak seperti biasanya. Dan cowok yang menurutku emang ganteng di luar dan di dalam tak pernah mengungkit-ungkit soal pembicaraan terakhir yang kita bahas di kantin pagi itu. Tapi aku beruntung masih bisa berteman dengannya hingga akhirnya tulisan ini diterbitkan, hingga aku sudah menjadi seorang mahasiswi di universitas negeri di tempat kelahiranku, Fajar pun juga menuntut ilmu di universitas yang sama meski pun beda fakultas dan masih menjalankan hubungan pertemanan yang baik dengaku.

3 omelan:

Shudai Ajlani on September 23, 2010 at 4:51 PM said...

lanjut bro :D

NURA on September 25, 2010 at 11:01 AM said...

salam sobat
wah sip kalau bisa menerobos di kerumunan dengan sangat mudah.
maaf baru berkunjung ke sini mba Putry,setelah mudik.

Anggi Zahriyan on September 30, 2010 at 8:13 AM said...

Hahaha... Asyik put.
kecil-kecil udah pnya pngalaman cinta segudang :D

Post a Comment

 

ExtraOrdinary Life Copyright © 2010 Designed by Ipietoon Blogger Template Sponsored by Emocutez